Pemberontakan Terlama dalam Sejarah di Dunia



Kesepakatan perdamaian antara Pemerintah Kolombia dan gerakan pemberontakan terbesar di negara itu, Revolutionary Armed Forces of Colombia (FARC) secara resmi ditandatangani, Senin (27/9). Momen yang disaksikan oleh 2.500 perwakilan asing dan tamu spesial itu menandai berakhirnya konflik yang terjadi sepanjang 52 tahun lamanya. 

FARC adalah kelompok oposisi terbesar di Kolombia yang didirikan pada 1963. Laman BBC menyebutkan, gerakan pemberontakan dimulai pada 1964 oleh Partai Komunis, dengan mengikuti ideologi Marxis-Leninis. 

Pendiri utama FARC terdiri atas sekelompok petani kecil serta buruh. Mereka memperjuangkan kesetaraan, yang dinilai sama sekali tidak ada di Kolombia pada masa itu. 

Pihak keamanan negara memperkirakan, FARC memiliki setidaknya 6.000 hingga 7.000 anggota pasukan yang aktif dalam kelompok tersebut. Selain itu, mereka juga didukung oleh sekitar 8.500 warga sipil. 

Selama melakukan pemberontakan, FARC memiliki strategi dengan perang gerilya. Namun, pada waktu yang ditentukan mengadakan pertempuran besar di beberapa wilayah yang disebut blok regional. 

Pemimpin tinggi FARC adalah Rodrigo Londono Echeverri. Ia juga dikenal dengan nama alias, yaitu Timochenko. 

Secara historis, rakyat di Kolombia telah menderita ketimpangan kelas. Rakyat umumnya sulit memiliki lahan. Itu terjadi karena Pemerintah Kolombia pernah menjual lahan luas untuk kepemilikan pribadi di akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. 

FARC bangkit. Mereka, yang juga terinspirasi oleh revolusi Kuba pada 1950, menuntut lebih banyak hak atas kepemilkan tanah. 

Tujuan FARC yang didasarkan pada ideologi komunis dipandang sebagai ancaman oleh pemilik-pemilik tanah yang kaya raya, serta pemerintah. Hal itu membuat tentara dikerahkan untuk membubarkan komune yang dimiliki FARC. Konflik pun terjadi hingga perang bersenjata akhirnya terjadi. 

Meski menargetkan pasukan keamanan Kolombia, tak jarang korban dari pertempuran yang mereka lakukan adalah warga sipil. Bahkan, di antaranya adalah anak-anak. 

Kelompok hak asasi manusia Kolombia mengatakan, FARC kerap merekrut secara paksa orang-orang dari golongan petani miskin hingga anak-anak. Dari data yang dilaporkan, terdapat sekitar 21 anak di bawah usia 15 tahun yang bergabung dengan FARC pada Mei 2016. 

Selain itu, FARC juga memiliki anggota perempuan yang kebanyakan berasal dari golongan masyarakat menengah ke bawah. Beberapa di antara mereka juga dilaporkan mencoba keluar dari kelompok secara diam-diam. 

Beberapa pihak menilai, FARC adalah kelompok oposisi terkaya di dunia. Mereka dilaporkan menyembunyikan uang dalam jumlah besar, meski hal ini dibantah. 

Kolombia merupakan salah satu negara yang disebut sebagai produsen terbesar kokain di dunia. Diduga, sebagian besar pendapatan FARC didapatkan dari bisnis ilegal perdagangan obat terlarang. Selain itu, ada kemungkinan mereka melakukan pengadaan pajak. 

Selama beberapa tahun terakhir, pasukan keamanan Kolombia berupaya memukul mundur FARC secara intensif. Setelah hampir empat tahun perundingan damai secara resmi dilakukan, disertai dua negosiasi rahasia sebelumnya, FARC sepakat menandatangani perjanjian damai. Mereka berkomitmen untuk meletakkan senjata untuk selamanya. 

Meski perjanjian damai telah dilakukan dan dihadiri banyak negara, termasuk Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki Moon, Presiden Kuba Raul Castro, hingga Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) John F Kerry, bukan berarti AS menghapus FARC dari daftar organisasi teroris. 

"Kami jelas akan meninjau dan membuat penilaian terhadap implementasi perjanjian damai tersebut terlebih dahulu," ujar Kerry. (rol/adj)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama