Lutfi Sarif Hidayat, SEI (Pemerhati Ekonomi Politik)
Kunjungan kerajaan Arab Saudi dipimpin oleh Raja Salman atau Khadimul
Haramain Asy-Syarifatain dengan jumlah total rombongan sebanyak
1500 orang, diantaranya 25 pangeran dan 10 menteri ke Indonesia yang direncanakan satu minggu
lebih, yaitu tanggal 1-9 Maret 2017 menuai banyak reaksi dari berbagai pihak.
Reaksi tersebut sangat beragam, baik dari reaksi positif, hingga reaksi yang
bernuansa ketidaksukaan.
Dari pihak pemerintah walaupun tidak secara langsung, termasuk
dari para pendukungnya memberikan klaim ini adalah “pesona” atau “kehebatan”
Presiden Jokowi. Sebab, kunjungan terakhir Arab Saudi ke Indonesia terjadi pada
tahun 1970 atau sekitar 47 tahun yang lalu. Pada waktu itu Raja Faisal
berkungjung ke Indonesia disambut oleh Presiden Soeharto. Sehingga ini adalah
bentuk prestasi tersendiri bagi pemerintahan Jokowi, dan akan menjadi sejarah
baru bagi Indonesia.
Bagi pemerintah juga, atau dari kalangan pemerhati ekonomi
nasional pro pemerintah, kunjungan Raja Salman akan menjadi momentum perbaikan
ekonomi. Karena dikabarkan dalam banyak media, bahwa kunjungan Raja Salman akan
membawa investasi sebesar sekitar 334,5 triliun rupiah kepada Indonesia.
Masih bagi pemerintah, kunjugan ini akan memberikan keuntungan
lain, seperti dikabarkan akan adanya dua penadatanganan antara Raja Salman
dengan Menteri Agama dan bentuk kerjasama-kerjasama lainnya. Selain itu, dalam
bidang pariwisata dinilai akan menjadi promosi besar untuk Indonesia.
Reaksi yang menarik lainnya adalah dari sebagian pihak-pihak
“Islam liberal”. Mereka sebagiannya berpandangan hampir senada dengan
pihak-pihak pro pemerintah. Bahwa ini adalah bentuk keberhasilan rezim. Mereka
melihat investasi dari Raja Salman akan berdampak baik bagi Indonesia. Hal yang
menarik adalah karena mereka terkenal dengan pihak yang sangat menentang
“wahabisme” dan “anti-arab”. Sungguh fenomena yang menarik.
Kemudian bagi sebagian umat Islam, kunjungan ini bermakna
sebagai bentuk kepedulian Raja Salman kepada kondisi umat Islam di Indonesia
pada bulan-bulan terakhir. Ada yang mengatakan bahwa kunjungan Raja Salman akan
membantu kezhaliman yang terjadi pada umat Islam di Indonesia.
***
Banyaknya fenomena menarik dan reaksi beragam dari berbagai
kalangan menjadi bukti tersendiri bahwa semuanya tergantung dari sudut
pandangnya. Bagi sebagian masyarakat, yang justru menarik dan sangat ditunggu
adalah sudut pandang politik. Bagaimana kemudian peta politik atau makna
politik dari kunjungan Raja Salman, baik secara nasional maupun internasional.
Terlebih, isu terhangat yang sedang berkembang akhir-akhir ini
adalah masalah PT. Freeport. Apakah ada benang merah antara kunjungan Raja
Salman dengan mencuatnya masalah PT. Freeport yang notabene adalah perusahaan
besar dari Amerika Serikat. Sedangkan pemerintah Indonesia sekarang ini
mempunyai kecenderungan dekat dengan China. Sehingga sebenarnya akan lebih
menarik jika bisa terungkap makna politik dibalik Kunjungan Raja Salman.
Seandainya berbicara peta politik Arab Saudi sebenarnya tidak
bisa dilepas dari fakta sejarah berdirinya kerajaan Arab Saudi. Berdirinya
kerajaan Arab Saudi tidak terlepas dari campur tangan Inggris dengan anteknya Lawrence
of Arabia yang
kemudian Perancis pun akhirnya ikut masuk di dalamnya. Hingga kemudian muncul
sebuah perjanjian antara Inggris dan Perancis pada 16 Mei 1916 tentang
pembagian negara-negara bekas wilayah Turki Utsmani. Perjanjian tersebut
terkenal dengan perjanjian Sykes-Picot berdasarkan nama diplomat dari Inggris
Sir Mark Sykes dan dari Perancis Francois Georges Picot. Dari perjanjian
tersebut wilayah yang sekarang menjadi Irak, Kuwait dan Yordania masuk dalam
kendali Inggris. Dan wilayah yang sekarang disebut Suriah, Lebanon dan Turki
masuk dalam kendali Perancis. Sementara Palestina akan ditentukan kemudian,
dengan memperhitungkan ambisi Zionis.
Peta politik sekarang dengan kondisi saat itu dimana Turki
Utsmani sebelum runtuh hingga runtuh dan hingga sekarang sanagat mungkin
berbeda. Disebabkan dinamika politik yang terus berkembang.
Pertanyaan kemudian bagaimana dengan Arab Saudi di mata peta
politik dunia? Apakah ada benang merah kunjungan Arab Saudi dengan isu politik
di Indonesia? Apakah kunjungan ini juga berhubungan dengan kondisi Arab Saudi
yang disinyalir sedang mengalami krisis?
Lalu, yang paling penting adalah apa manfaat yang bisa diberikan
kepada umat Islam dari kunjungan ini?
Pertanyaan-pertanyaan ini yang akan menimbulkan banyak reaksi
dari kalangan umat Islam baik yang pro maupun yang kontra dengan Kerajaan Arab
Saudi. Apapun analisa terhadap Arab Saudi dalam politik internasioal maka
jangan dikaitkan dengan Kota Suci Mekkah dan Madinah. Karena kedua Kota Suci
ini sudah pasti adalah menjadi salah satu simbol persatuan umat Islam. Namun
ketika berbicara bagaiman kancah Arab Saudi dalam poltik internasional maka
pihak yang kontra atau tidak sepakat dengan Arab Saudi jangan kemudian disebut
penentang Kota Suci Mekkah dan Madinah.
Bagi sebagian umat Islam sangat menanti bagaimana benang
merah Kunjungan Raja Salman dengan isu politik yang berkembang di Indonesia.
Karena secara langsung akan sangat menentukan nasib umat Islam di Indonesia.
Dan sebagai seorang muslim, sikap khusnuzhan selalu
dikedepankan kepada sesama muslim, bahwa kedepannya semoga akan baik bagi umat
Islam.
Meski, pertarungan argumen begitu banyak tentang bagaimana
posisi politik Arab Saudi di kancah internasional. Dan biasanya akan sangat
ditentukan oleh siapa Raja yang memimpinnya. Jika saat dipimpin oleh Raja
Abdullah, menurut beberapa pengamat Arab Saudi cenderung dekat dengan Inggris.
Kemudian di bawah kekuasaan Raja Salman menurut beberapa pengamat, Arab Saudi
adalah “teman dekat” Amerika Serikat. Sehingga semoga saja, kabar investasi
besar dari kunjungan Arab Saudi kepada Indonesia bukanlah menjadi kepanjangan
tangan Politik Amerika Serikat kepada Indonesia. Jika ini benar terjadi,
pertarungan besar antara kepentingan Politik China dan Amerika Serikat memang
sedang bermain di Indonesia.
Salah satu faktor kedekatan Arab Saudi dan Amerika Serikat
adalah karena adanya kepentingan bersama dalam semua bidang. Menteri Luar
Negeri Adel Al-Jubeir dikutip koran berita Reuters edisi 16/1/16
mengatakan, "merasa optimis pada pemerintahan AS berikutnya, terutama cara
AS yang ingin mendapatkan kembali pengaruhnya di dunia."
Dia juga mengatakan bahwa, "kepentingan kerajaan sejalan
dengan kepentingan AS, baik geopolitik di Suriah, Irak, Yaman dan Iran atau
dalam hal energi dan keuangan. Dan sejumlah tujuan yang diinginkan Riyadh dan
Washington adalah mencapai tujuan yang sama."
Sementara Trump saat kampanye pemilu pada 19/8/16 di Televisi
NBC Amerika mengatakan. "Arab Saudi adakah negara kaya dan harus membayar
uang pada kita atas politik dan keamanan yang didapatinya." Dia
mengatakan, "Arab Saudi akan berada dalam masalah besar dalam waktu dekat,
sehingga akan perlu pada bantuan kita, dan seandainya bukan karena kita niscaya
tidak akan bisa bertahan lama."
Namun ini adalah politik tingkat tinggi, sebab dalam media
pernah diungkap data bahwa utang AS kepada Arab Saudi mencapai USD 116,8 miliar
atau sekitar Rp 1.551 triliun (CNN, 17/5/16). Kemudian, terdapat kabar yang
beredar Arab Saudi mengancam akan menarik USD 200-300 miliar oleh investor Arab
Saudi dari total sekitar USD 600 miliar investasi Arab Saudi di AS (Yon
Machmudi, 2017).
Selain itu, juga adanya indikasi pergeseran arah politik luar
negeri Arab Saudi dengan menjadikan Asia sebagai mitra alternatif. Negara yang dimaksud
adalah China, Jepang dan India. Dimana total kekayaan ketiga negara mampu
menyamai kekayaan negara AS yang selama ini menjadi sekutu setia Arab Saudi.
Demikian juga ketiga negara Asia ini secara bersama-sama mampu menyerap lebih
dari 39 % minyak Arab Saudi. Suatu jumlah yang sangat besar dibanding AS dengan
jumlah 19 %. Dan total impor negara-negara Asia dari Saudi mencapai 4 jt bpd (barrel per day) atau 51 % (Yon
Machmudi, 2017).
Kemudian jika dikaitkan dengan kondisi ekonomi Arab Saudi yang
menurut banyak pihak Arab Saudi sedang mengalami pelemahan ekonomi menarik
untuk dibaca. Setelah pada April 2016 tidak jadi terlaksana pertemuan para
anggota OPEC dan non-OPEC nampaknya berbuntut panjang bagi Arab Saudi. Hal ini
disebabkan karena menurunnya harga minyak mentah dunia. Dampaknya adalah Arab
Saudi pada waktu itu merencakan akan meminjam USD 10 miliar dari konsorsium
bank global. Ini adalah kali pertama setelah 25 tahun tidak pernah mengambil
utang. (okezone.com, 20/4/16)
Arab Saudi adalah negara yang memberikan keistimewaan kepada
warganya. Keistimewaan tersebut meliputi gas bersubsidi, perawatan kesehatan
gratis, pendidikan gratis, subsidi air dan listrik, bebas pajak penghasilan,
penginapan umum, sekitar 90 % warga negaranya dipekerjakan pemerintah dan masih
banyak lagi. Sayangnya, keistimewaan tersebut bisa dipangkas. Sebab, Arab Saudi
mengalami defisit transaksi berjalan hampir USD 100 miliar pada 2015. (okezone,
8/1/16)
Lalu bagaimana makna politiknya? Apa yang akan didapat umat
Islam dari semua ini? Apakah kunjungan ini adalah bentuk kunjungan kenegaraan
biasa, berupa kerjasama bilateral antar negara, dan sekedar menjadi momen
liburan Kerajaan Arab Saudi semata?
***
Sebenarnya ada sudut pandang lain dari kunjungan Raja Salman ke
Indonesia pada Maret 2017. Sudut pandang kemanusiaan melihat nasib
saudara-saudara muslim di seluruh penjuru dunia. Semoga kebaikan selalu
meliputi umat Islam, dimanapun berada.
Semua orang telah melihat saudara-saudara muslim di Aleppo
Suriah, Gaza Palestina, Irak, Burma, Rohingnya, Pakistan, Afghanistan, Kashmir
dan setiap negeri muslim. Semoga pertolongan Allah ta’ala senantiasa menyertai
umat Islam, dimanapun berada.
Saat melihat saudara muslim di Suriah, terlebih ketika musim
dingin masih banyak di antara mereka yang membutuhkan bantuan selimut,
logistik, obat-obatan dan kebutuhan lainnya. Nyawa merekapun setiap detiknya
bisa hilang dengan serangan-serangan tidak manusiawi dari musuh-musuh Islam.
Hal serupa juga bisa disaksikan di Gaza, Palestina dan lainnya.
Pada awal Agustus 2016 lebih dari 300.000 penduduk sipil, yang
60 % di antaranya adalah perempuan dan anak-anak, tengah diblokade di Aleppo
dengan pasokan medis, air dan makan yang menipis. Sebelumnya pada Juli terjadi
serangan udara yang membombardir Rumah Sakit hingga meyebabkan banyak orang
luka dan tewas.
Saat mendengar lebih dari sepertiga dari 500.000 pengungsi
Palestina di Suriah dalam Kamp Yarmuk kembali terusir dan mengalami
ketidakpastian tempat tinggal akibat konflik yang terus berlangsung karena
agresi brutal penjajah Israel tentu akan membuat hati orang beriman menangis.
Dan tentu semua mendengar ratusan bahkan ribuan orang Islam di
Rohingnya, Myanmar tewas karena pembantaian. Ratusan ribu orang Islam Rohingnya
harus mencari perlindungan, tempat mengungsi dan jaminan keamanan. Begitu juga
nasib muslim di Burma yang bermula sejak puluhan tahun silam. Pada tahun 1948
30.000 muslim Burma dibunuh secara massal dan 113 Masjid diberangus. Hingga
tahun 1961 hingga 90.000 orang muslim tewas.
Dan masih banyak fakta kondisi umat Islam di seluruh penjuru
dunia, yang menyimpulkan bahwa umat Islam sangat membutuhkan segala bentuk
bantuan. Tanpa terkecuali Indonesia dan Arab Saudi juga mempunyai kewajiban
untuk membantu.
***
Seandainya saja, biaya-biaya yang digunakan dalam kunjungan Raja
Salman, baik yang dikeluarkan oleh Arab Saudi maupun oleh Pemerintah Indonesia.
Seandainya saja, kabar jutaan dollar yang akan dihabiskan dalam
kunjungan dengan sekitar 1500 orang yang akan dibawa menggunakan 7 unit pesawat
berbadan lebar (wide body) dan jika
biaya diasumsiakan sesuai dengan tiket komersil, maka biaya bisa mencapai 14
miliar rupiah.
Seandainya saja, biaya untuk menyewa mobil dengan asumsi ada
sekitar 400 mobil mewah yang disewa dan harga sekitar 20 juta rupiah misalkan,
maka biaya per hari hingga 8 miliar rupiah.
Seandainya saja, biaya sewa hotel mewah dengan asumsi per malam
sebesar 20 juta rupiah, dan kebutuhan kamar asumsi 750 kamar, maka biaya bisa
mencapai hingga 15 miliar rupiah per hari, serta biaya untuk menutup pantai
saat kunjungan, dan segala biaya yang dalam rangka kunjugan ini.
Atau bahkan seandainya saja, sebagian kekayaan Raja Salman yang
menurut Majalah Forbes memiliki USD 17 miliar (setara 226 triliun), aset berupa
penjara pribadi khusus untuk para pangeran yang nakal dan putri yang selalu
boros, aset pesiar mewah sepanjang lapangan sepak bola, budget liburan USD
30.000.000 (setara 336 miliar rupiah) saat liburan ke Maladewa, 5 miliar riyal
saat liburan ke Maroko.
Atau bahkan seandainya saja, biaya kunjungan saat ke Turki yang
tinggal di Hotel Suite di Ankara dengan biaya 10 juta dollar dan biaya sewa 500
mobil mewah serta sewa pesawat kargo dengan keseluruhan total biaya kunjungan
saat itu hingga 18 juta dollar, biaya kunjungan kerajaan Arab Saudi tahun 2005
saat itu ke Spanyol dengan membawa 3000 rombongan yang kemudian menyewa 300
kamar hotel dan 100 mobil mewah sehingga saat itu dikabarkan sudah siap dengan
dana 60 juta dollar atau setara dengan 780 miliar, aset istana pribadi yang
dinamai Erga Palace di Riyadh, aset rumah mewah dan aset kekayaan lainnya yang
begitu besar.
Seandainya saja semua itu atau mungkin (hanya) sebagian kecil
saja. Kemudian diberikan kepada umat Islam di Aleppo Suriah, Gaza Palestina,
Irak, Burma, Rohingnya, Pakistan, Afghanistan, Kashmir dan lainnya mungkin akan
lebih bermanfaat, dan begitu sangat membantu.
Apalagi sandainya saja semua potensi kekuatan umat Islam di
seluruh dunia dapat bersatu padu, dibawah satu komando kepemimpinan, dalam
naungan payung yang sama negara berdasar Al-Quran As-Sunnah, semua hukum Islam
diterapkan, semua urusan umat Islam diatur dengan syariat-Nya, semua masalah
umat Islam bersama bahu-membahu diselesaikan bersama. Maka, saat bangun dari
tidurnya di pagi hari, umat Islam masih bisa merasakan senyum kebahagiaan. Mari
bersatu !!!
***
