Saya menuliskan ini dengan hati yang ta'dzim kepada para Ulama, ialah mereka yang berilmu lagi takut kepada Allah Rabbul 'Izzati semata.
Sungguh mengiris hati apa yang kiranya sedang terjadi di negeri mayoritas Muslim ini. Ulama di negeri ini di adu domba sedemikian sehingga, oleh mereka yang beriman saja tidak, apalagi ta'dzim kepada para Ulama.
Begitu ironis pula, ketika melihat seorang muslim berada dalam barisan para pengadu domba itu untuk kemudian mengambil keuntungan materi darinya. Berapakah harga para ulama di mata mereka?
Sudah lupakah ia bagaimana ia diajarkan membaca kitab sucinya oleh ulama di desanya? Sudah hilangkah isi dari kitab Ta'lim Muta'alim tentang bagaimana memperlakukan ahli ilmu?
Kebangkitan para ulama, adalah makna yang jelas sekali tertera pada nama ormas terbesar di Indonesia. Para foundernya merasa yakin sekali bahwa kebangkitan sebuah negeri berasal dari kebangkitan para ulamanya. Karena foundernya juga para Ulama yang semoga Allah merahmati semuanya.
Adanya fakta bahwa pimpinan tertinggi ormas tersebut disebut pembohong dan juga akan dipolisikan, sungguh menyakiti hati saya dan juga tentunya hati ummat yang ada di belakangnya.
Mulut kasar dari para pecinta jabatan dan kekuasaan, sudah keterlaluan dan perlu diberikan pelajaran. Agar tidak ada lagi ulama dimanapun yang akan dihinakan kembali.
Agar mereka sadar dan takut kepada ucapannya dan sikapnya sehingga ta'dzim kepada ulama. Bahwa lidah ulama adalah lidah yang menyambung risalah para Nabi. Kedudukannya istimewa di sisi Allah daripada para pencari jabatan dan kekuasaan tersebut.
Maka wahai kaum muslimin, marahlah. Tunjukkanlah penghormatan kalian kepada para ulama dengan marah yang produktif. Yakni marah yang menggerakkan kalian menuntut keadilan disisi hukum dan disisi Allah Ta'ala.
