Jujur, santun, dan sederhana, itulah gambaran yang didapatkan oleh George McTurnan Kahin, guru besar Universitas Cornell Amerika, ketika bertemu dengan Mohammad Natsir yang menjabat sebagai menteri penerangan saat itu. Seorang menteri yang menggunakan kemeja bertambal. Kehidupan yang jauh dari kemewahan, serta perjuangan dan kesantunannya menjadikan ia tokoh yang dirindukan saat ini, walaupun sepak terjangnya tidak terlalu dicatat dalam buku-buku sejarah yang ada di sekolah-sekolah. Bahkan, setingkat mahasiswa pun masih banyak yang tidak mengetahui sepak terjang Natsir.
Lahir di di kampung jembatan berukir Alahan Panjang, Kabupaten Solok, Sumatra Barat pada tanggal 17 juli 1908, Natsir merupakan salah tokoh Islam yang sangat disegani di Indonesia dan dunia internasional melalui pemikiran, tindakan, dan karya-karyanya. Ia merupakan ahli filsafat yang tajam, ahli negara, dan ahli agama yang menguasai beberapa bahasa asing. Dialah ulama yang intelek dengan filsafat politiknya yang terkenal, yaitu "carilah kemenangan dalam politik, tetapi musuh tak merasa dikalahkan". Filsafat inilah yang ia pegang dalam berpolitik, di mana ia memaknakan politik adalah cara dan taktik perjuangan yang seharusnya dilakukan atas dasar kejujuran. Memperjuangkan ideologi, tanpa menyakiti lawan.
Natsir hidup ketika terjadi pertentangan ideologi dengan kaum nasionalis dan komunis. Polemik dengan Sukarno terjadi pada tahun 1930 sampai 1940-an tentang kebangsaan dan keagamaan. Berpolemik mengenai apa itu bangsa, dan posisi agama dalam negara. Natsir mengkritik Sukarno yang menjadikan Turki sebagai model negara yang memisahkan agama dan negara, serta mengkritik pemikiran-pemikiran Sukarno yang sering menyerang Islam. Bagi Natsir, agama tidak dapat dipisahkan dari negara, karena negara sebagai alat untuk menjalankan syariat. Pertentangan antara Natsir dan Sukarno terjadi dalam perang tulisan di surat kabar. Adu argumen dan saling serang, ternyata tidak membuat dua tokoh bangsa ini bermusuhan. Bahkan, hubungan Sukarno dengan Natsir semakin dekat ketika Natsir menjadi menteri penerangan, dan Sukarno sebagai presiden.
Polemik Natsir tidak hanya dengan Sukarno, tetapi juga dengan tokoh komunis seperti Dipa Nusantara Aidit. Perdebatan dengan Aidit terjadi di DPR dan Konstituante. Bagi Natsir yang merupakan ketua fraksi Masyumi, Aidit adalah musuh ideologis, karena Aidit ingin memperjuangkan tegaknya komunisme di Indonesia, sedangkan Natsir memperjuangkan Islam dengan partai Masyuminya. Namun, pertentangan itu hanya sebatas ideologis, karena perdebatan hanya terjadi di dalam sidang. Di luar sidang, kedua tokoh ini makan dan minum bersama, bahkan Natsir sering dibonceng sepeda oleh Aidit sehabis rapat ketika Natsir tidak ada tumpangan. Ini menunjukkan bahwa pertarungan yang terjadi hanya di dalam sidang, bukanlah pertarungan terhadap individu, melainkan pertarungan ideologis, sehingga tidak merusak hubungan antarindividu.
Tidak hanya masalah berpolemik dengan lawan politiknya, Natsir juga telah memberikan banyak kontribusi bagi Indonesia. Baik kontribusi pemikiran maupun tindakan. Kontribusi tersebut seperti meletakkan dasar-dasar bagi Kementerian Penerangan yang ia pimpin, keberhasilan Natsir sebagai salah seorang yang berhasil membujuk presiden PDRI Syafruddin Prawiranegara untuk menyerahan mandatnya kepada Presiden Sukarno, mosi integral yang kembali melahirkan Indonesia dalam bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1950, serta tetap ikut membantu Indonesia pada masa orde baru walaupun ia menjadi tahanan politik orde baru. Kontribusi Natsir tidak hanya untuk orang Islam, tetapi juga untuk Indonesia. Namun, walaupun telah banyak kontribusi yang ia berikan, perjuangannya masih belum tercatat dalam buku-buku sejarah yang ada di sekolah-sekolah kita saat ini.
Belajar dari Natsir
Pemimpin yang santun dan sederhana, itulah yang dirindukan masyarakat sekarang ini. Namun, semakin bertambahnya zaman, seiring pergantian generasi, pemimpin-pemimpin seperti Mohammad Natsir semakin sulit untuk ditemukan, yang semakin mudah ditemukan adalah pemimpin-pemimpin dengan pencitraan, yang memperlihatkan seolah-olah dekat dengan rakyat, pemimpin-pemimpin yang selalu ingin mendapat sorotan media, serta hidup mewah. Padahal, salah satu faktor kehancuran negara yang dikemukakan oleh Ibnu Khaldun dalam bukunya yang berjudul "Muqaddimah" adalah kemewahan.
Ketika para pemimpin dan generasi muda sudah hanyut dalam kemewahan, maka yang muncul adalah sikap malas berjuang dan individualisme, melahirkan generasi ketergantungan dengan mental rapuh. Hidup mewah yang berlebihan ini jugalah yang menjadi kritik Mochtar Lubis dalam pidatonya yang berjudul "Manusia Indonesia". Dalam pidatonya, Mochtar Lubis menyinggung sifat boros masyarakat Indonesia, baik itu pemimpin maupun generasi mudanya. Kemewahan adalah awal dari kehancuran suatu bangsa.
Marilah kita belajar dari sikap yang diperlihatkan Natsir sebagai pemimpin. Seorang pemimpin yang hidup sederhana, tampil apa adanya, menolak dengan halus pemberian mobil Chevrolet Impala yang ditawarkan oleh tamunya dari Medan, tidak malu berboncengan sepeda dengan sopirnya, dan banyak lagi kesederhanaan yang diperlihatkan oleh Natsir sebagai pemimpin. Bukan hanya sederhana, Natsir juga menunjukkan ketegasan dan keteguhan dalam perjuangan. Ketika ia mengatakan berjuang atas nama Islam, maka ia memegang kata-katanya tersebut sampai akhir hayatnya. Pancasila, baginya adalah bagian dari nilai-nilai Islam itu sendiri. Dan Natsir adalah tokoh yang gigih memperjuangkan persatuan Indonesia.
Ketika berpolemik dengan lawan politik pun, Natsir tidak menunjukkan kebencian kepada individu-individu yang menjadi lawan politiknya. Malah sebaliknya, yang terlihat adalah kehangatan dan persahabatan, walaupun ia pernah menjadi tahanan politik pada masa orde lama dan orde baru. Ketika menjadi tahanan politik, ia malah membantu pemerintahan Suharto dalam menjalin hubungan dengan Jepang, Timur Tengah, serta memperbaiki hubungan antara Indonesia dan Malaysia yang sempat memburuk pada masa pemerintahan Sukarno. Berbeda dengan saat sekarang ini, di mana perbedaan pendapat membuat terputusnya tali silaturahmi. Aksi saling klaim kebenaran, serta perang sikap menjatuhkan pribadi lawan politik, menjadi tontonan bagi kita semua. Ketika terjadi perbedaan pendapat, maka yang dilihat adalah musuh yang harus dihancurkan.
Sikap dan kontribusi yang diperlihatkan Natsir untuk Islam dan Indonesia, seharusnya menjadi contoh bagi pemimpin dan masyarakat Indonesia saat ini. Menjadi contoh bagi pemimpin-pemimpin yang hanya mengejar kesenangan, bagi pemuda-pemuda yang hanya mengejar kemewahan, dan bagi kita yang masih mendahulukan perbedaan dengan mendahulukan emosi. Natsir tidak hanya ulama yang pandai berbicara, tetapi juga ulama yang bertindak secara nyata untuk agama dan Indonesia. (rol)
Mhd Alfahjri Sukri
Mata Garuda Institute
