Kira-kira, apa yang membuat Ahok dengan entengnya mau berurusan dengan ketua MUI, KH Ma'ruf Amin yang juga sekaligus adalah Rais 'Am Nahdhatul Ulama? Apakah itu nekat atau blunder? Apakah dia sadar ataukah dia tidak sadar?
Dugaan saya, itu efek dari "ruang gema". Lihat postingan akun-akun pro-ahok tentang MUI di medsos. Sejak keluar fatwa tentang pidato Ahok, mereka mengembangkan persepsi bahwa MUI merupakan lembaga korup, rusak, tak berwibawa, tak dipandang oleh masyarakat, khususnya umat Islam sendiri. Mungkin, itu sangat mempengaruhi asumsi Ahok terhadap keadaan KH Ma'ruf.
Termakan oleh opini dari kubu sendiri, ia menyangka bahwa suara yang bergema dalam "ruang" kubunya sendiri itu merupakan suara masyarakat. Ahok lupa untuk benar-benar sadar akan kedudukan MUI yang sebenarnya di mata umat Islam serta kedudukan Kiyai Ma'ruf sendiri. Dia kurang sadar bahwa buzzer-buzzernya tidak sepenuhnya berhasil menularkan gema ke ruangan lain, tidak ada resonansi. Akibatnya fatal, huhungan baik yang ingin dia bangun dengan kalangan tertentu bisa ambyarr, ambruk.
Kira-kira, apa yang membuat Ahok dengan entengnya mau berurusan dengan ketua MUI, KH Ma'ruf Amin yang juga sekaligus adalah Rais 'Am Nahdhatul Ulama? Apakah itu nekat atau blunder? Apakah dia sadar ataukah dia tidak sadar?By the way, itu cuma perkiraan, kebenarannya perlu pembuktian. Bisa jadi itu salah, bisa jadi Ahok memang sadar betul apa yg dia lawan dan memang nekat. Silakan dipikirkan sendiri selanjutnya.
Disadur, dan diedit dari status Facebook
