9 Naga dan 9 Orang Pembuat Kerusakan dalam Quran


Oleh: Zakariya al-Bantany

Tafsir Surat An-Naml, ayat 48-53

{وَكَانَ فِي الْمَدِينَةِ تِسْعَةُ رَهْطٍ يُفْسِدُونَ فِي الأرْضِ وَلا يُصْلِحُونَ (48) قَالُوا تَقَاسَمُوا بِاللَّهِ لَنُبَيِّتَنَّهُ وَأَهْلَهُ ثُمَّ لَنَقُولَنَّ لِوَلِيِّهِ مَا شَهِدْنَا مَهْلِكَ أَهْلِهِ وَإِنَّا لَصَادِقُونَ (49) وَمَكَرُوا مَكْرًا وَمَكَرْنَا مَكْرًا وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ (50) فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ مَكْرِهِمْ أَنَّا دَمَّرْنَاهُمْ وَقَوْمَهُمْ أَجْمَعِينَ (51) فَتِلْكَ بُيُوتُهُمْ خَاوِيَةً بِمَا ظَلَمُوا إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ (52) وَأَنْجَيْنَا الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ (53) }


"Dan adalah di kota itu sembilan orang laki-laki yang membuat kerusakan di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaikan. Mereka berkata, 'Bersumpahlah kalian dengan nama Allah, bahwa kita sungguh-sungguh akan menyerangnya dengan tiba-tiba beserta keluarganya di malam hari, kemudian kita katakan kepada warisnya (bahwa) kita tidak menyaksikan kematian keluarganya itu, dan sesungguhnya kita adalah orang-orang yang benar.' Dan mereka pun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar (pula), sedangkan mereka tidak menyadari. Maka perhatikanlah betapa sesungguhnya akibat makar mereka itu, bahwasanya Kami membinasakan mereka dan kaum mereka semuanya. Maka itulah rumah-rumah mereka dalam keadaan runtuh disebabkan kezaliman mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu (terdapat) pelajaran bagi kaum yang mengetahui. Dan telah Kami selamatkan orang-orang yang beriman dan mereka itu selalu bertakwa." (QS. An-Naml [27]: 48-53)

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menjelaskan: "Allah Swt. menceritakan kejahatan kaum Tsamud yang diwakili oleh para pemimpin mereka yang merupakan penggerak kaumnya ke jalan kesesatan dan kekufuran serta mendustakan Shalih. Akhirnya mendorong mereka untuk berani menyembelih unta Nabi Shalih, dan hampir saja mereka akan membunuh Nabi Shalih juga. Mereka merencanakan akan menyerang dia di rumah keluarganya di malam hari, lalu mereka membunuhnya dengan diam-diam, kemudian mereka mengatakan kepada ahli warisnya bahwa mereka tidak mengetahui kejadian tersebut dan tidak terlibat. Maka sesungguhnya keluarga Nabi Shalih akan membenarkan berita yang mereka sampaikan itu. Bahwa mereka tidak mengetahui apa-apa tentang peristiwa pembunuhan itu. Hal ini dikisahkan oleh Allah Swt. melalui firman-Nya:

{وَكَانَ فِي الْمَدِينَةِ تِسْعَةُ رَهْطٍ يُفْسِدُونَ فِي الأرْضِ وَلا يُصْلِحُونَ}


Dan adalah di kota itu terdapat sembilan orang laki-laki yang membuat kerusakan di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaikan. (An-Naml: 48)

Yaitu di kota kaum Tsamud terdapat sembilan orang laki-laki. Sesungguhnya disebutkan hanya sembilan orang yang mewakili kaum Tsamud semuanya, karena mereka adalah para pemimpin dan para pembesar kaum Tsamud.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa merekalah yang menyembelih unta tersebut, yakni merekalah yang menyarankan agar unta itu disembelih —semoga Allah melaknat mereka— dan ternyata usulan mereka itu dilaksanakan.

As-Saddi telah meriwayatkan dari Abu Malik, dari Ibnu Abbas, bahwa nama kesembilan orang tersebut ialah Da'ma, Da'im, Harma, Harim, Da-ab, Sawab, Riyab, Mista', dan Qaddar ibnu Salif, penyembelih unta. Dialah yang melakukan penyembelihan terhadap unta Nabi Shalih dengan tangannya sendiri. Disebutkan oleh firman-Nya:

{فَنَادَوْا صَاحِبَهُمْ فَتَعَاطَى فَعَقَرَ}


Maka mereka memanggil kawannya, lalu kawannya menangkap (unta itu) dan menyembelihnya. (Al-Qamar: 29)

Dan firman Allah Swt.:

{إِذِ انْبَعَثَ أَشْقَاهَا}


Ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka. (Asy-Syams: 12)

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma'mar ibnu Rabi'ah As-San'ani, bahwa ia pernah mendengar Ata ibnu Abu Rabah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan adalah di kota itu terdapat sembilan orang laki-laki yang membuat kerusakan di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaikan. (An-Naml: 48) Bahwa kebiasaan mereka ialah mengurangi kadar mata uang dirham. Hal ini menunjukkan bahwa seakan-akan mereka biasa bermuamalah dengan mata uang dirham dan dinar seperti yang dilakukan oleh orang-orang Arab di masa silam.

Imam Malik telah meriwayatkan dari Yahya ibnu Sa'id, dari Sa'id ibnul Musayyab yang telah mengatakan bahwa mengurangi kadar mata uang emas dan perak termasuk perbuatan yang menimbulkan kerusakan di muka bumi.

Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dan lain-lainnya disebutkan bahwa Rasulullah Saw. melarang memotong mata uang kaum muslim, yakni mata uang yang berlaku di kalangan mereka terkecuali karena alasan yang diperbolehkan.

Pada garis besarnya orang-orang kafir lagi pendurhaka itu mem­punyai ciri khas yaitu gemar menimbulkan kerusakan di muka bumi dengan berbagai macam cara yang mereka kuasai. Antara lain ialah melakukan perbuatan, seperti yang telah disebutkan oleh para imam di atas dan perbuatan-perbuatan lainnya yang merusak.

**

Firman Allah Swt.:

{قَالُوا تَقَاسَمُوا بِاللَّهِ لَنُبَيِّتَنَّهُ وَأَهْلَهُ}


Mereka berkata, "Bersumpahlah kalian dengan nama Allah, bahwa kita sungguh-sungguh akan menyerangnya dengan tiba-tiba beserta keluarganya di malam hari.” (An-Naml: 49)

Yakni mereka bersumpah dan berjanji setia di antara mereka untuk membunuh Nabi Shalih AS dan orang-orang yang mereka jumpai bersamanya di malam hari dengan sembunyi-sembunyi. Maka Allah membalas tipu daya mereka dan menjadikan mereka sendiri yang terjerumus ke dalam perangkapnya sendiri.

Mujahid mengatakan, mereka bersumpah dan berjanji di antara sesamanya untuk membinasakan Shalih. Tetapi sebelum mereka sampai kepada Nabi Shalih, mereka keburu binasa, demikian pula seluruh kaum mereka.

Qatadah mengatakan bahwa mereka berjanji dengan sesamanya akan menculik Shalih AS di malam hari, lalu membunuhnya. Telah diriwayatkan kepada kami bahwa ketika mereka sedang mengendap-endap menuju ke rumah Nabi Shalih untuk membinasakannya, tiba-tiba Allah mengirimkan batu besar kepada mereka, dan batu besar itu menimpa mereka hingga mati semuanya.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa merekalah orang-orang yang menyembelih unta tersebut. Setelah menyembelih unta itu mereka berkata di antara sesamanya, "Sungguh kita akan menyerang Shalih beserta keluarganya di malam hari ini, lalu kita bunuh mereka. Sesudah itu kita katakan kepada ahli waris mereka bahwa kita tidak mengetahui apa-apa tentang kejadian tersebut, dan kita sama sekali tidak terlibat di dalamnya." Akhirnya Allah membinasakan mereka semuanya sebelum niat mereka tercapai.

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan bahwa kesembilan orang itu setelah menyembelih unta Nabi Shalih berkata, "Marilah kita pergi untuk membunuh Shalihh. Jika dia benar (seorang Nabi), berarti kita men­dahuluinya sebelum kita tertimpa azab. Dan jika dia dusta, berarti kita susulkan dia bersama untanya." Lalu mereka mendatanginya di malam hari di rumah keluarganya. Tetapi sebelum niat mereka tercapai, para malaikat menghujani mereka dengan batu. Setelah teman-teman mereka merasakan bahwa teman mereka yang sembilan orang itu datang terlambat kepada mereka maka mereka mendatangi rumah Nabi Shalih, ternyata mereka menjumpai kesembilan orang itu telah mati dalam keadaan kepalanya pecah semuanya karena tertimpa batu-batuan. Lalu mereka berkata kepada Shalih, "Kamu telah membunuh mereka."

Ketika mereka hendak menyerang Shalih, maka keluarga Shalih bangkit menghalang-halangi mereka dengan menyandang senjata lengkap untuk membelanya. Lalu mereka berkata kepada kaumnya, "Demi Allah, kalian jangan membunuhnya, dia telah menjanjikan kepada kalian bahwa azab akan datang menimpa kalian dalam tiga hari ini. Jika dia benar, berarti Tuhan sangat murka terhadap kalian. Dan jika dia dusta, maka terserah kalian apa yang hendak kalian lakukan terhadapnya." Maka pada malam itu juga mereka pulang ke rumah masing-masing.

Abdur Rahman ibnu Abu Hatim mengatakan bahwa setelah mereka menyembelih unta itu, Nabi Shalih berkata kepada mereka: Bersyukurlah kalian di rumah kalian selama tiga hari, itu adalah janji yang tidak dapat didustakan. (Hud: 65) Mereka mengatakan, "Shalih menduga bahwa dia akan selesai dari kita tiga hari kemudian, padahal kita akan menyelesaikannya beserta keluarganya sebelum tiga hari."

Tersebutlah bahwa Nabi Shalih mempunyai masjid di Al-Hajar yang terletak di salah satu lereng bukit yang ada di sana, dia biasa mengerjakan salatnya di masjid itu. Maka kaumnya keluar menuju ke sebuah gua yang ada di tempat itu di suatu malam, lalu mereka berkata, "Jika dia datang untuk salat, kita bunuh dia, lalu kita pulang seusai membunuhnya dan kita jumpai ahli warisnya, sesudah itu berarti kita telah membereskan mereka semuanya." Tetapi Allah mengirimkan kepada mereka batu besar dari atas bukit tepat di atas mereka. Karena takut akan tertimpa batu besar itu, maka mereka masuk ke dalam gua itu dan batu besar itu menutup pintu gua mereka berada, sehingga kaum mereka sendiri tidak mengetahui di mana mereka berada, juga tidak mengetahui apa yang telah menimpa mereka. Allah mengazab mereka yang sembilan orang itu di dalam gua tersebut, sedangkan kaum yang lainnya di tempat mereka berada, dan Allah menyelamatkan Nabi Shalih beserta para pengikutnya. Kemudian Abdur Rahman ibnu Abu Hatim membacakan firman-Nya:

{وَمَكَرُوا مَكْرًا وَمَكَرْنَا مَكْرًا وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ مَكْرِهِمْ أَنَّا دَمَّرْنَاهُمْ وَقَوْمَهُمْ أَجْمَعِينَ فَتِلْكَ بُيُوتُهُمْ خَاوِيَةً}


Dan mereka pun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar (pula), sedangkan mereka tidak menyadari. Maka perhatikanlah betapa sesungguhnya akibat makar mereka itu, bahwasanya Kami membinasakan mereka dan kaum mereka semuanya. Maka itulah rumah-rumah mereka dalam keadaan kosong. (An-Naml: 50-52)

Yakni tidak ada seorang pun di dalamnya karena mati semuanya.

{بِمَا ظَلَمُوا إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ. وَأَنْجَيْنَا الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ}


disebabkan kezaliman mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu (terdapat) pelajaran bagi kaum yang mengetahui. Dan Kami selamatkan orang-orang yang beriman dan mereka itu selalu bertakwa. (An-Naml: 52-53)." [Ibnu Katsir, Tafsir al-Quran al-'Adzhim]


**

Kesimpulannya:

Dalam kitab Tafsir Imam Ibnu Katsir Rahimahullah tersebut dijelaskan bahwa 9 orang laki-laki dalam QS. An-Naml: 48-53 adalah para petinggi atau pemimpin kaum Tsamud yang telah berbuat kerusakan di muka bumi dan berbuat makar kepada Allah Swt dengan memusuhi Nabi Shalih AS dan dakwahnya serta mereka 9 orang laki-laki tersebut telah membunuh untanya Nabi Shalih AS dan berupaya membunuh Nabi Shalih AS beserta pengikut beliau pula, tapi ternyata Allah Swt berkehendak sebaliknya dengan segera menimpakan azab kepada mereka dengan membinasakan 9 petinggi kaum Tsamud tersebut beserta kaum Tsamud jua, dan Allah Swt pun menyelamatkan Nabi Shalih AS beserta pengikutnya dan Allah Swt pun memenangkan agama-Nya. Sungguh makar Allah amatlah sangat canggih, karena Allah Swt adalah Sang Maha Pembuat Makar dan sebaik-baik Pembuat makar.

Ibrahnya, secara tersirat fakta nyata di zaman kita saat ini ada 9 naga (para taipan atau kapitalis aseng) yang saat ini menguasai ibu kota Jakarta dan menguasai pusat-pusat ekonomi dan sejumlah media mainstream di  Indonesia, bahkan mereka menguasai dan mengendalikan kekuasaan politik rezim yang menjadi bonekanya dengan kekuatan kapital atau modal yang sangat besar yang dipegang oleh 9 naga tersebut di negeri ini.

9 naga tersebut beserta kaumnya dan rezim bonekanya ini sangat mirip sekali dengan karakter jahat 9 petinggi kaum tsamud dan kaum tsamud yang berbuat kerusakan di muka bumi dan berbuat makar kepada Allah dan Nabi Shalih AS.

Dimana pada saat ini,  pasca suksesnya Aksi Damai Bela Islam Jilid II 411 dan Aksi Super Damai Bela Islam Jilid III 212 yang dimobilisasi oleh para Ulama dan dihadiri oleh jutaan Umat Islam atas respon penistaan Islam dan Ulama yang telah dilakukan Ahok Gubernur DKI tahun lalu yang menjadi pion unggulan 9 naga tersebut, hingga membuat 9 naga tersebut melalui rezim bonekanya terus-menerus berbuat makar kepada Allah dengan memusuhi dan mengkriminalisasi serta membunuh karakter Islam, Ulama dan Umat Islam untuk membungkam dan memadamkan persatuan Umat Islam dan kebangkitan Islam yang mereka sangat takuti tersebut.


Apatahlagi mereka sangat memahami jika sampai persatuan Umat Islam dan Islam bangkit dalam wujud raksasa negara Khilafah Islam, ini semua bakal menghancurkan gurita hegemoni kapitalisme global mereka di negeri ini. Inilah yang menyebabkan mereka menjadi semakin ketakutan dan semakin super paranoid hingga mereka pun menghalalkan segala cara melakukan makar untuk mewujudkan cita-cita jahat mereka yaitu melanggengkan hegemoni gurita penjajahan kapitalisme global mereka di negeri ini dan demi menguasai sepenuhnya Indonesia melalui penguasaan sepenuhnya ibu kota Jakarta secara politis dan sistematis dalam cengkraman kuat mereka hingga Indonesia pun di masa depan menjadi Singapura yang kedua dan menjadi koloni negara induk mereka yaitu RRC.

9 naga ini beserta kaumnya dan rezim bonekanya tersebut bisa dikatakan mereka adalah kaum Tsamud gaya baru yang hidup di zaman jahiliyah gaya baru ini pula. Karena mereka memiliki kemiripan sifat dan karakter yang sama dengan kaum Tsamud kuno pada masa Nabi Shalih AS, dan nasib kaum Tsamud gaya baru tersebut beserta 9 naga yang menjadi pemimpin atau petingginya bakal bernasib sama pula dengan 9 petinggi kaum Tsamud beserta kaumnya tersebut.

Karena, mereka secara terang-terangan telah  memusuhi dan tengah berbuat makar kepada Allah dan agama-Nya serta kepada para Ulama kekasih Allah.

Yang mereka lawan adalah Allah Swt Sang Maha Pencipta alam semesta, manusia dan kehidupan bahkan nyawa mereka pun dalam genggaman Allah Swt.

Kebinasaanlah bagi orang-orang yang sombong dengan membangkang dan melawan Allah Swt.

Sungguh Allah Swt Maha Perkasa dan amatlah keras adzab dan siksa-Nya. Allah Swt berfirman:

إِنَّ الَّ‍ذِينَ يَكْفُرُونَ بِئَايَاتِ اللهِ وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّينَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَيَقْتُلُونَ الَّذِينَ يَأْمُرُونَ بِالْقِسْطِ مِنَ النَّاسِ فَبَشِّرْهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ {21} أُوْلاَئِكَ الَّذِينَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَاْلأَخِرَةِ وَمَالَهُم مِّن نَّاصِرِينَ {22}


“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi dengan tanpa alasan yang benar dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, maka berilah mereka kabar gembira, bahwa mereka akan menerima siksa yang pedih. Mereka itu adalah orang-orang yang lenyap (pahala) amal-amalnya di dunia dan akhirat, dan mereka sekali-kali tidak memperoleh penolong.” (QS. Ali Imran [3]: 21-22)

Dan juga Allah Swt berfirman:

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ


"Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang-orang musyrik benci." (QS. Ash-Shaff [6]: 9)

Maha benar Allah dengan segala firman-Nya. Wallahu a'lam bish shawab. []

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama